“Pepeletokan” Permainan Tradisional Sunda Yang Terbuat Dari Bambu

yuk nostalgia kembali bermain pletokan

Halo kembali lagi nih bareng mimin, yang mana pada kesempatan kita kali ini akan membahas sebuah permainan tradisional yaitu pletokan atau yang lebih populer dengan sebutan “Pepeletokan”. Pernah mendengar istilah tersebut? di kalangan anak umur 8-15 tahun pada kala itu pasti sudah mengenal jenis mainan sewaktu masih duduk di bangku sekolah tersebut.

Sayangnya anak-anak zaman sekarang sudah jarang ada yang memainkan permainan tradisional ini, seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman membuat anak “zaman now” lebih tertarik ke pada dunia game online khususnya game yang berada di gadget.

Mungkin jarak beberapa tahun ke depan jenis permainan lokal ini sudah jarang sekali di mainkan oleh anak-anak, bahkan terancam punah, sangat di sayangkan memang. Maka dari itu, mimin membuat artikel ini mengharapkan supaya anak-anak generasi sekarang tidak melupakan jenis permainan tradisional yang di populerkan oleh anak-anak 90an ini.

Apa Itu Pletokan?

pletokan merupakan sebuah nama dari senjata mainan yang terbuat dari bambu, untuk pelurunya terbuat dari kertas yang dibasahi, bisa menggunakan biji-bijian atau kembang. Permainan tradisional ini khas dari Betawi, sedangkan di Sunda sendiri permainan yang satu ini disebut “bebeletokan” atau ada juga yang mengenalnya dengan sebutan “Pepeletokan”. Di daerah lain seperti Madura dan Probolinggo, mereka menyebutnya “tor cetoran”.

mengenal permainan tradisional Sunda pletokan

Jenis permainan ini biasanya di mainkan oleh anak laki-laki di bawah umur yakni sekitar 7-15 tahunan, mereka berimajinasi bahwa pada saat bermain permainan tersebut layaknya berada di medan pertempuran, tak jarang juga diantara mereka yang menirukan adegan seperti di film-film action atau perang.

Baca juga : Alat musik khas Betawi, Tanjidor!

Cara bermain “bebeletokan”

Agar bisa memainkan permainan tradisional Sunda ini, kita harus terlebih dulu mengetahui bagaimana caranya menembakan pletokan. Yang pertama masukan terlebih dahulu peluru pertama ke laras panjang pletokan pada bagian ujungnya menggunaan batang penolak (penyodok), setelah itu masukan lagi peluru kedua dan di tolak menggunakan batang penolak (penyodok). Peluru kedua ini memiliki fungsi ganda, fungsi pertamanya sebagai klep pompa untuk menekan peluru pertama yang akan di tembakan, sedangkan fungsi yang kedua di siapkan untuk menjadi untuk menjadi peluru yang akan di tembakan berikutnya.

cara memainkan permainan tradisional Sunda "pepeletokan"

Tembakan ini menimbulkan bunyi yang cukup keras, berbunyi “pletok”. Dari sinilah kata “Pepeletokan” atau “bebeletokan” tercipta. Peluru yang di lontarkan relatif lurus, pelurunya bisa terhempas atau tertembak hingga mencapai kurang lebih 5 meter.

Cara membuat “pepeletokan”

senjata mainan anak-anak yakni "Bebeletokan"
  • Siapkan bambu yang kuat dan sudah berusia cukup tua agar tidak mudah pecah, yang kemudian bambu tersebut di bagi menjadi dua yaitu laras & penyodok. Untuk membuat penyodok, kita harus membuatnya seperti lidi panjang yang memiliki handle atau pegangan di bagian ujungnya. pastikan penyodoknya dapat masuk ke dalam lubang laras, tidak logor maupun terlalu pas. Sedangkan untuk bagia atas penyodok di buat agak lebar, yang bertujuan untuk menekan atau memukul peluru/amunisi agar bisa masuk ke dalam lubang laras dengan sempurna.
  • Dalam membuat laras, siapkan sebuah bambu berukuran kecil, dengan diameter sekitar 1cm – 1,5cm dan panjangnya antara 15cm – 20cm. Disarankan untuk membuat laras pletokan ini terbuat dari bambu yang tua agar tidak mudah belah atau pecah.
  • Siapkan peluru yang terbuat dari kertas yang di basahi, biasannya peluru yang bagus menggunakan kertas koran bekas. Bisa juga menggunakan buah-buahan yang berukuran kecil, seperti Ranti atau leunca. atau menggunakan biji jambu.

Setelah itu, bentuklah tim bersama kawan-kawan sepermainan untuk memainkan pletokan ini.

Baca juga : Mengenal celempung, alat musik dari gamelan

Apakah pletokan aman untuk dimainkan oleh anak-anak?

Untuk menjawab pertayaan seperti ini terbilang cukup sulit, mengapa? karena pletokan sendiri merupakan permainan tembak-tembakan yang menggunakan senjata yang terbuat dari bambu dan untuk pelurunya terbuat dari kertas yang dibasahi.

apakah bermain pletokan aman untuk anak-anak?

Bila anak-anak memainkankanya dengan hati-hati, maka kecil kemungkinan tidak akan terjadi apa-apa. Disarankan untuk tidak mengarahkan atau menembak bagian dada sampai kepala, karena ditakutkan mengalami cedera yang cukup fatal. terlebih lagi area mata.

Untuk itu, alangkah lebih baiknya jika anak-anak tersebut memainkan pletokan menggunakan jaket dan helm. Selain akan aman untuk dimainkan, tetapi juga unik dan menarik perhatian. Sehingga menjadi permainan yang murah dan asyik untuk dimainkan bersama teman-teman.

Baca juga : Sejarah gethuk, makanan khas asal Jawa

Sejarah Pletokan Dimainkan

Asal-usul siapa pencipta permainan tradisional ini tidak di ketahui, yang pasti “pepeletokan” sudah sangat lama di mainkan. Terlebih lagi bagi generasi 80-90an pasti sudah tidak asing kembali dengan jenis permainan yang satu ini. Karena sewaktu kecil atau dulu belum adanya gadget canggih, sehingga permainan pletokan ini cukup populer pada masa itu.

siapakah pencipta permainan pletokan

Permainan tradisional Sunda ini mengajarkan kita atau anak-anak pentingnya bekerja sama dan membangun strategi untuk meraih sebuah kemenangan. Permainan ini mencerminkan peperangan pada zaman dahulu, khususnya pada saat penjajahan yang belum menggunakan senjata modern seperti pistol.

Baca juga : Sejarah wajit Cililin

Permainan “tor cetoran” atau “bebeletokan” ini seiring berjalannya waktu mulai di lupakan, hal ini dikarenakan anak zaman now lebih tertarik dengan bermain game online di gadget atau di komputer. Alasan lain mengapa pletokan ini sudah jarang ada yang memainkan karena para pembuat pletokan atau tukang dagang “pepeletokan” sudah sangat jarang kita temui di sekolah-sekolah, terutama di sekolah dasar.

Terlebih lagi di saat ini kita sedang mengalami pandemi covid-19, yang mengharuskan sekolah di tutup untuk sementara waktu yang entah kapan akan dibuka kembali, sehingga para pedagang pletokan ini mulai beralih profesi. Sangat disayangkan memang, tetapi mau bagaimana lagi beginilah kenyataannya.

Ayo kita kembangkan & lestarikan permainan-permainan tradisional yang kita kenal agar tidak punah oleh zaman, sehingga dapat dimainkan kembali oleh generasi yang akan mendatang.

Baiklah teman-teman para pencinta budaya lokal, segitu saja pembahasan kita kali ini mengenai permainan tradisional Sunda yaitu Pletokan. Semoga ulasan di atas dapat menambah wawasan kita dan untuk generasi 90an bisa bernostalgia kembali. Cukup sekian & terimakasih sudah membaca artikel ini hingga akhir.

3 tanggapan pada ““Pepeletokan” Permainan Tradisional Sunda Yang Terbuat Dari Bambu

  1. Artikelnya sangat menarik , semoga dengan artikel ini anak anak bisa lebih mengenal permainan tradisional ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas