Sejarah Roti Buaya Khas Betawi, Yang Ternyata Terdapat Unsur Kesetiaan

Sejarah Roti Buaya

Dalam pembahasan kali ini Lokal Klik Akan memberikan sebuah informasi yang menarik dan juga mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, bagaimana tidak, coba apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata buaya? Biasanya kita langsung terpikir reptil buas berbadan besar yang hidup di sungai, rawa-rawa, danau, atau lahan basah lainnya.

Makin mengerikan karena buaya dikenal juga sebagai karnivora yang tak segan-segan memakan sesama hewan air lainnya. Bahkan sering kita mendengar berita ada manusia jadi mangsa buaya.

Setali tiga uang dengan buaya yang hidup di air, buaya darat juga sering dikonotasikan dengan pria tak setia atau mata keranjang yang tebar pesona kesana kemari.

Nama buaya juga sering dipakai dalam istilah buaya judi dan buaya minum (orang yang suka mabuk). Intinya, buaya lebih banyak menghadirkan kesan negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi tidak semua buaya itu buruk lho. Ada buaya yang disukai masyarakat Betawi dan sering digunakan di acara-acara adat, yaitu roti buaya.

Penasaran dengan kuliner yang satu ini ?. Yuk kita ikuti terus penjelasannya sampai selesai. Agar anda dapat mengenal lebih dekat dengan roti buaya, kuliner khas betawi yang sayang untuk anda lewatkan

Mengenal Sejarah Roti Buaya Asal Betawi

Pada awalnya roti buaya disiapkan untuk menyaingi orang-orang Eropa yang kala itu menunjukkan cinta dengan cara memberi bunga pada lawan jenis. Masyarakat Betawi kala itu menginginkan sebuah simbol baru untuk menunjukkan perasaan pada lawan jenis. Maka dipilihlah roti dengan bentuk buaya ini karena sifatnya yang setia pada satu pasangan.

Kenapa disebut roti buaya ? Buaya merupakan hewan yang unik. Pada saat musim kawin tiba, selalu memilih pasangan yang sama. Dari sinilah masyarakat Betawi percaya hal tersebut secara turun menurun. Roti buaya yang dibuat biasanya sepasang. Ukuran roti buaya betina biasanya lebih kecil dibandingkan yang jantan.

Biasanya dalam roti buaya betina juga ditambah dengan roti buaya kecil terletak di atas punggung atau di sampingnya yang bermakna kesetiaan hingga ke anak cucu.

Awalnya roti buaya dibuat dengan tekstur keras, cenderung untuk tidak dikonsumsi. Roti keras ini memiliki filosofi tersendiri, yakni menandakan nantinya pasangan akan langgeng hingga maut menjemput. Namun seiring berkembangnya zaman, tekstur roti buaya berubah menjadi empuk seperti roti pada umumnya. Dan roti buaya pun setelah selesai acara pernikahan akan dibagikan kepada para tamu dengan harapan dapat segera menyusul menikah.

Menarik bukan mengenai roti buaya, apalagi dapat kita temukan pad acara pernikahan. penasaran ?. Ingin mengetahui lebih dalam lagi ?. Ikuti terus penjelasan, berikut ini.

Fakta Menarik Dibalik Dari Roti Buaya

Fakta menarik dibalik roti buaya

Sering Di Pergunakan Sebagai Seserahan Acara Pernikahan

Fakta satu ini pastinya sudah dikenal oleh banyak orang. Setiap acara pernikahan suku Betawi, akan terpampang nyata terdapat roti buaya. Roti buaya ini biasanya dibawa oleh calon pengantin pria, yang akan meminang calon istri. Roti buaya ini biasanya terpampang di dinding rumah mempelai wanita atau ditempatkan di atas nampan.

Salah satu alasan penggunaan buaya dalam roti buaya yang digunakan dalam seserahan pernikahan adalah agar pasangan tersebut dapat hidup dengan selamat layaknya buaya yang dapat selamat hidup di darat dan di air. Hal ini sesuai dengan karakter buaya yaitu bahwa buaya dapat hidup di air dan darat. Jadi ini mengartikan bahwa kedua pasangan kelak dapat tetap hidup bersama dalam keadaan apapun, baik saat sedang di atas, atau di bawah. Layaknya roda yang berputar.

Karakter lain dari buaya yang terdapat dalam roti buaya adalah bahwa buaya termasuk binatang dengan ciri dismorfisme seksual. Ukuran buaya jantan lebih besar daripada buaya betina. Dalam hal ini roti buaya yang dibawa dalam upacara pernikahan digambarkan dengan sepasang roti buaya, yang berupa roti buaya berukuran besar dan ukuran kecil. Roti buaya berukuran kecil melambangkan perempuan yang diletakkan di atas roti buaya berukuran besar yaitu laki-laki.

Roti Buaya Melambangkan Kesetiaan

Fakta satu ini pastinya mengikat dari fakta sebelumnya yang dijadikan sebagai penghantar pernikahan. Roti buaya ini dipercaya oleh masyarakat Betawi sebagi simbol kesetiaan. Kesetiaan ini berawal dari inspirasi perilaku buaya yang hanya kawin sekali sepanjang hidupnya. Dan akhirnya masyarakat betawi meyakini hal itu secara turun temurun. Ini berlaku pada kesetiaan seorang suami kepada istrinya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa roti buaya sepasang adalah suatu persembahan atau bentuk “seserahan‟ mempelai pria kepada
wanitanya.

Selain terinspirasi perilaku buaya, simbol kesetiaan yang diwujudkan dalam sebuah makanan berbentuk roti itu juga memiliki makna khusus.

Menurut keyakinan masyarakat Betawi, roti juga menjadi simbol kemapanan ekonomi. Karena harganya yang dapat dijangkau oleh masyarakat banyak, sehingga dianggap lelaki mampu membeli roti tersebut. Sebab pada zaman kolonial, roti tawar ini banyak ditemukan hidangan khas Belanda.

Saat itu setiap ada acara, akan menghadirkan roti tawar pada menu mereka. Masyarakat Betawi kemudian beranggapan bahwa roti tawar ini diharapkan dapat menjadi mapan seperti petinggi-petinggi Belanda. Kemudian masyarakat Betawi memberikan inovasi unik pada bentuknya, yang diawali dari kesetiaan buaya.

Dengan begitu ini memiliki maksud, selain bisa saling setia, pasangan yang menikah juga memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa hidup sukses dan mapan. Karenanya, tidak heran jika setiap kali prosesi pernikahan, mempelai laki-laki selalu membawa sepasang roti buaya berukuran besar, dan satu roti buaya berukuran kecil.

Ini mencerminkan kesetiaan mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan sampai beranak cucu. Tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang oleh orang Betawi yang masih menghargai adat istiadat nene moyang mereka.

Dalam adat istiadat masyarakat Betawi, roti buaya biasanya digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai bawaan atau buah tangan dalam prosesi pernikahan. Roti buaya sejak dahulu merupakan roti tawar atau tanpa rasa apapun. Roti tawar ini mutlak harus selalu ada dalam seserahan adat istiadat masyarakat Betawi, karena pada zaman dulunya roti tawar ini termasuk makanan istimewa yang sulit untuk di dapatkan dan hanya di makan oleh orang-orang tertentu.

Selain itu juga dari nilai kelakuan dan karakter yang terkandung didalamnya, yakni diharapkan kedua mempelai dapat berkelakuan seperti pasangan buaya. Buaya biasanya monogami (pernikahan sekali seumur hidup) dan memiliki sarang yang tetap dan tidak berpindah-pindah.

Oleh karena filosofis sikap kesetiaan pasangan hidup buaya tersebut juga digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai cermin bagaimana seharusnya pasangan mempelai bertindak dan berperilaku antara satu sama lain. Selalu setia, memiliki rumah yang tetap, tidak tinggal di tempat lain atau bersama orang lain, dan mengharamkan perselingkuhan adalah nilai yang terkandung di dalam-nya.

Cukup menarik bukan ?. dalam pembahasan kali ini, terlebih yang kita ketahui tentang kata buaya selalu berkaitan negatif. Akan tetapi setelah mengetahui sejarah roti buaya khas betawi yang ternyata terkandung makna mendalam, khususnya bagi para pengantin baru.

2 tanggapan pada “Sejarah Roti Buaya Khas Betawi, Yang Ternyata Terdapat Unsur Kesetiaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas