Mengenal Jaran Jenggo Solokuro, Sebuah Aktraksi Kuda Keserupan

apa itu jaran jenggo?

Hallo sobat lokalklik, bagaimana kabarnya? semoga dalam keadaan baik-baik saja yah. Terlebih lagi di masa pandemi seperti ini, seharunya kita lebih menjaga lebih baik lagi masalah kesehatan diri sendiri dan orang disekitar kita.

Oke pada pembahasan kali ini kita akan mengulas kembali mengenai kesenian tradisional Indonesia. Saya pribadi tidak bosan-bosan memperkenalkan dan mempopulerkan kesenian-kesenian yang dimiliki setiap daerah, karena menurut saya membahas mengenai hal tersebut sangatlah menyenangkan, unik dan menarik sembari sedikit-sedikit menambah wawasan kita.

Kesenian yang akan kita ulas pada kesempatan kali ini yaitu Jaran Jenggo Solokuro. Apakah diantara kalian sudah pernah mendengar sebelumnya? jika belum, yuk tunggu apalagi, mari kita bahas sama-sama. Berikut ini :

Apa Itu Jaran Jenggo Solokuro?

Mengenal Kesenian Jaran Jenggo – yaitu sebuah kesenian tradisional masyarakat Desa Solokuro yang sudah ada sejak dahulu dan terus berkembang di tengah masyarakat setempat. Desa Solokuro sendiri merupakan desa dengan luas wilayah 1.717 Ha, berbatasan dengan Desa Payaman di sebelah utara, Desa Takerharjo di sebelah timur.

merayakan khitanan dengan acara kesenian jaran jenggo

Kesenian Jaran Jenggo sendiri memiliki makna yaitu jaran goyang atau kuda goyang. Keseniaan ini mengkombinasikan antara seni musik, religi dan tarian, bahkan dibumbui dengan kekuatan supra natural/mistis agar lebih menarik yang dipandu seorang pawang profesional.

Jaran Jenggo yang berarti Kuda Jenggo itu juga bisa melakukan gerakan-gerakan tertentu yang seolah-olah seperti menari mengikuti iringan musik atau lagu yang sedang diputar. Kuda Jenggo itu sendiri tidak bisa dijumpai setiap saat karena hanya dipentaskan jika ada warga yang sedang punya hajatan untuk memeriahkannya.

mengenal kesenian jaran jenggo khas Lamongan

Biasannya orang yang mengundang kelompok kesenian Jaran Jenggo ini untuk memeriahkan acara khitanan anak laki-laki berusia 15 tahun kebawah. Cara mengapresiasi kesenian yang satu ini yaitu dengan cara diiringi dengan lagu-lagu Sholawat dan Islami, maka kuda yang sudah dilatih itupun akan bergoyang sesuai irama musik. Kuda Jenggo tersebut di tunggangi oleh anak laki-laki, kuda beserta anak laki-laki tersebut diberi pakaian mewah bak seorang raja yang menunggangi kudanya, serta ada yang mengayomi dengan payung. Dan diarak-arak mengelilingi desa atau pemukiman sekitar.

Jaran Jenggo ini dalam setiap pementasannya selalu menarik perhatian banyak orang. Hal ini lantaran terpaku dengan pesona dan daya tariknya yang eksotis, selain itu juga terdapat unsur magis karena beberapa pemainnya mengalami tance ( kesurupan ).

Kesenian yang satu ini hanya bisa ditemui didaerah Lamongan saja. Mungkin terdapat di beberapa daerah dengan kesenian yang serupa, tetapi berbeda nama dan cara mengapresiasinya. Kesenian Jaran Jenggo ini mirip dengan kesenian Sisingaan yang ada di Jawa Barat.

Baca juga : Seni Lais khas Garut yang hampir punah ditanahnya sendiri

Sejarah kesenian Jaran Jenggo asal Solokuro, Lamongan

Awal mula Kesenian Jaran Jenggo di Desa Solokuro ini muncul pada tahun 1907-an. Dulu terdapat seekor kuda milik Seorang bernama Mbah H. Rosyid, Kepala Desa Solokuro, kuda tersebut awalnya merupakan alat transportasi atau sebagai tunggangan pribadi untuk jalan-jalan ke sawah dan juga berdagang.

awal mula terciptanya kesenian jaran jenggo

Tetapi, ada keunikan tersendiri di mana kuda milik Mbah H. Rosyid ini Ketika dinaiki akan langsung mengangguk-anggukan kepalanya sambil berjalan dan bergoyang. Sejak kejadian itulah Mbah H. Rosyid dan masyarakat Solokuro menamakannya sebagai Jaran Jenggo, yang berarti kuda yang bisa berjoget. Kemudin, mbah H. Rosyid sering bermain bersama anak cucu untuk berlatih dan bermain bersama kudanya.

Selanjutnya apabila punya putra, cucu, saudara atau keluarga yang baru dikhitan pasti akan diarak keliling desa yang diiringi dengan irama musik terbang jedor. Tujuannya sebagai penghargaan atau pengumuman bahwa pengantin yang diarak telah dihitan. Dari kebiasaan inilah pada akhirnya budaya itu diwarisi oleh keturunan Mbah H. Rosyid secara turun temurun. Hal ini terbukti sepeninggal Mbah H. Rosyid kesenian tradisional Jaran Jenggo itu dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama Mbah H. Sarno sekaligus beliau merupakan penerus kepala Desa Solokuro.

Setelah beliau wafat (Mbah H.Sarno) dilanjutkan putranya yang bernama Mbah H. Khudori dan juga sebagai penerus kepala Desa Solokuro. Setelah itu, generasi selanjutnya diwariskan kepada putra H. Kudhori yaitu bapak Djayadi, beliau adalah seorang sekretaris desa. Kemudian dilanjutkan oleh saudara sepupunya yaitu bapak Sumindar. Lalu pada tanggal 1 juli 2002 dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama bapak Sampurno dan Bapak Kuri sampai sekarang.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, para pawang atau pemain pun memiliki tekad untuk mencoba experimen dengan memadukan permainan kesenian Jaran Jenggo dalam beratraksi. Dengan usaha yang gigih dalam berlatih, tak lama selang lama pawang kuda tersebut berhasil menundukkan kesenian Jaran Jenggo dengan mengkolaborasikannya dalam atraksi.

Baca juga : Sejarah Kesenian Rengkong asal Jawa Barat yang tercipta dari kalangan agraris atau Petani

Jenis-jenis alat musik untuk mengiringi kesenian Jaran Jenggo

Terdapat beberapa alat musik yang selalu mengiringi selama kesenian Jaran Jenggo berlangsung, diantaranya :

  • Gendang
  • Rebanah
  • Jedor
  • Gambang
  • Dan juga piano

Bisa dilihat, bahwa tidak hanya alat musik tradisional saja yang mengiringi selama proses acara kesenian Jaran Jenggo dimainkan, tetapi dapat juga dipadukan dengan alat musik modern. Terlebih disaat ini beragam alat musik yang bisa dimainkan untuk berbagai keperluan di bidang acara kesenian daerah.

Baca juga : Mengenal alat musik Talindo khas Toraja

Terdapat 3 Kelompok Jaran Jenggo Asal Lamongan

Jaran Jenggo ini tidak hanya diam disatu tempat saja, melainkan berjalan mengelilingi desa selayaknya pawai. Atau lebih tepatnya, mengiringi seorang bocah yang baru khitanan dengan menaiki kuda dan diberi kostum seperti seorang raja yang kemudian di arak-arak dengan segerombolan orang atau rombongan dan didukung dengan iringan musik.

3 kelompok kesenian jaran jenggo asal desa Solokuro

Jaran Jenggo diarak mengelilingi desa. Di setiap perempatan atau belokan, biasanya kuda tersebut akan diberhentikan untuk menunjukkan skill atraksi dan bergoyang seirama dengan suara musik. Jenis alat musik yang digunakan seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Di Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Terdapat 3 kelompok Jaran Jenggo yang sudah dikenal oleh penduduk sekitar dan sering tampil di berbagai acara. Ketiga kelompok Jaran Jenggo tersebut yaitu :

  1. Panji Laras
  2. Aswo Kaloko Joyo
  3. Satya Manggala

Kesenian Jaran Jenggo ini layak untuk kita lestarikan dan populerkan karena bukan hanya sebagai hiburan semata atau menarik untuk ditonton, tetapi terdapat suatu keunikan dalam kesenian tersebut yaitu melibatkan (Jaran) kudan sebagai tokoh utamanya.

Demikianlah ulasan kita kali ini mengenai Kesenian Jaran Jenggo yang berasal dari desa Solokuro, Lamongan. Semoga ulasan diatas dapat bermanfaat yaa…terutama dalam hal menambah wawasan mengenai kesenian tradisional Nusantara. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas