Sejarah Perjalanan Panjang Budaya Arek Yang Perlu kamu Tahu

mengenal sejarah panjang budaya arek

Budaya Arek terletak dalam wilayah budaya Jawa Timur, di sisi timur Kali Brantas. Dengan demikian, budaya Arek meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, dan Malang. Kediri dan Blitar dibatasi oleh Pare ke timur memiliki khazanah budaya Arek.

Meski tidak bersifat matematis, kedelapan wilayah tersebut -aliran Kali Brantas ke timur- menentukan lahirnya budaya Arek. Surabaya dan Malang menjadi pusat budaya Arek karena memiliki beberapa kesamaan. Bahkan, pemerintahan kolonial Belanda memperlakukan konstruksi arsitekturnya secara sama dalam beberapa hal. Misalnya, bentuk-bentuk bangunan dan nama daerah. Gresik dan Sidoarjo dapat dikatakan memiliki identitas budaya yang relatif sama dengan Surabaya.

Sejak abad ke-4 M hingga 9 M, hubungan antarwilayah budaya tersebut sangat dekat karena aliran Kali Brantas lebih lebar dibandingkan ketika memasuki abad ke-10, ke-13 (sebelum letusan Gunung Kelud sekitar 22 kali atau selama 431 tahun, Sugiyarto dalam Wiwik Hidayat, 1975: 60) hingga sekarang. Aliran Kali Brantas bisa dilewati puluhan bahkan ratusan perahu maupun gethek-gethek (rakit) besar. Saat itu, Surabaya masih terdiri atas puluhan pulau yang dikelilingi sungai-sungai besar dan kecil.

Di samping itu, khusus di Surabaya sejak abad ke-9 M, terdapat pula tiga pelabuhan penting. Yakni, Dadoengan (yang terbesar, dekat Wonokromo). Medang (sekarang Kendangsari Industri) dan Koeti (sekarang Kutisari) merupakan pelabuhan yang agak kecil yang berada dalam satu pulau yang bernama Landtong (Belanda: daratan/pulau yang berbentuk lidah). Setelah pemadatan tanah, Surabaya mulai dikenal sebagai pelabuhan yang memiliki potensi ekonomi yang besar di muara Kali Brantas.

Moordiati menyatakan, “…Surabaya memiliki keistimewaan tersendiri sebagai sebuah kota pelabuhan modern, perdagangan, maupun industri terbesar sepanjang abad XIX.” Surabaya tidak tertandingi oleh kota-kota pelabuhan mana pun seperti Calcutta, Rangoon, Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Shanghai (Howard Dick, 2000: xvii; Moordiati, 2005: 302).

baca juga : Mengenal Heo, Salah Satu Alat Musik Yang Jarang Terekspos. Asal NTT

Peran Kali Brantas yang sangat besar -baik sebagai lalu lintas perdagangan maupun interaksi antarwilayah di sekitar Kali Brantas- membentuk sikap budaya yang khas, yakni budaya kepulauan. Mengapa kepulauan? Mengapa bukan pesisir?

Di sekitar aliran Kali Brantas, terdapat wilayah-wilayah kepulauan, mulai hulu Sumber Pucung hingga ke hilir Surabaya maupun Kali Porong yang mengalir ke Selat Madura. Jadi, bukan hanya satu sungai yang membelah satu daerah dengan daerah lain. Sidoarjo dan Malang juga memiliki beberapa sungai besar serta kecil.

Semakin ke hulu (berawal dari Sumber Pucung) yang berdekatan dengan Gunung Kelud, semakin banyak sungai besar maupun kecil. Mata pencaharian terbesar penduduk di sekitar aliran Kali Brantas bukanlah nelayan, tapi bertani, berkebun, lalu buruh bangunan, dan sekarang buruh pabrik. Ludruk merupakan ciri seni kepulauan.

Berkaitan dengan letusan Gunung Kelud yang menutupi sebagian besar sungai-sungai turut menciptakan karakter budaya Arek. Sugiyarto (Pengaruh Alam terhadap Kehidupan Sepanjang Sungai Brantas, dalam Wiwik Hidayat, 1975: 43) menyatakan, “Letusan gunung berapi, hujan lebat, dan angin besar yang sering memberikan tantangan kepada penghuni sepanjang Kali Brantas dijawab dengan tindakan-tindakan setimpal, dengan pikiran-pikiran yang mendalam dan matang guna mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh alam.

Tantangan-tantangan tersebut merupakan gemblengan bagi nenek moyang kita.

Nenek moyang kita tidaklah melarikan diri dari itu, tetapi berusaha untuk mengetasinya. maka dari itu, timbulah kebudayaan yang berkembang pesat akibat tantangan itu. Fisik dan mentalnya digemblang, menghasilkan renungan yang kemudian menjiwai tata kehidupannya dan mendasari kehidupan bangsa yang militan.

Ujunggaluh merupakan daerah penting dan menjadi penyebab lahirnya surabaya sebagai tempat yang ditakdirkan harus “wani ing pakewuh”, Berani menghadapi kesukaran.

Tanah di sekitar aliran Kali Brantas, terutama Surabaya, sebelum abad ke-10 M berjenis tanah lembek (morassen). Hal tersebut menjadi alasan lambatnya pembangunan kawasan aliran Kali Brantas dan tidak memungkinkannya pendirian kerajaan-kerajaan besar dengan bangunan yang besar seperti Kerajaan Mataram.

Kerajaan Majapahit dan mataram dalam Budaya Arek

mengenal sejarah panjang budaya arek

Kerajaan Majapahit dan Mataram menjadi penting dalam membicarakan budaya Arek. Kerajaan Majapahit memberikan kontribusi pada tiga hal.

  • Pertama, Bahasa yang digunakan dalam wilayah arek adalah bahasa tunggal yang tidak memiliki tingkatan.
  • Kedua, Kepemimpinan pada kekuasaan dikelola oleh warga lokal.
  • Ketiga, Untuk menguasai wilayah lain di Jawa timur dan sekitarnya, budaya Arek merupakan jangkar bagi Majapahit

Selain majapahit yang memberikan kontribusi, Kerajaan mataram juga demikian. Pada masanya, muncul ragam bahasa bertungkat sebab muncul raja-raja baru yang mendorong posisi mereka yang berbeda dengan rakyat pada umumnya, terlepas dari dampak buruk atau baiknya.

Oleh sebab itulah muncul perdebatan sekaligus ambigus dalam berbahasa di wilayah budaya arek. Kehadiran kaum pentholan juga mempertegas poisis arek suroboyo sebagai komunitas kampung. Dengan 70.000 tentara mataram yang berhadapan dengan 30.000 orang surabaya membuat surabaya takluk ke tangan mataram pada 1625 M. Inilah awal hegemoni kerajaan Mataram dengan berbagai konsekuensi budayanya dimulai.

baca juga : Mengenal Serune Kalee, Alat Musik Tiup Khas Aceh

Kampung merupakan identitas pertama dan utama dalam budaya Arek.

Kampung tidak terbentuk hanya pada periode revolusi kemerdekaan, meski pada periode ini identitas kampung mencapai titik kulminasi identitas komunalnya.

Selain Wonokromo atau Pulo Wonokromo (Poeloe Wanosjrama), dapat pula dikatakan bahwa Pakis Gunung dan Waru Gunung, Jagir (Djagir), Menur Pumpungan atau Pumpungan (Poempoengan), Klampis Ngasem (Ngasem), Prapen Lor dan Prapen Kidul, Rungkut (Roengkoed), Karah, Kupang (Koepang) dan Banyu Urip (Soember -Banjoe- Oerip), serta Gunungsari (Goenoengsari) merupakan daerah tua atau kampung lama Surabaya.

Beberapa pulau tidak diberi nama. Itulah kampung-kampung sejak abad ke-9 yang masih sesuai dengan tempat dan namanya hingga sekarang dan merupakan kampung-kampung tua yang tidak tersentuh dalam era kolonial Belanda. Kampung-kampung Surabaya yang dianggap tua sekarang lebih berorientasi pada era kolonialis Belanda.

Saatnya bagi kita untuk mengubah jalan pikiran kita tentang budaya Arek dan budaya Arek Suroboyo dengan menelusuri lebih jauh sejarah panjang budaya Arek yang turut memberikan makna bagi kehidupan kita saat ini. (*)

Autar Abdillah

Pengajar Sendratasik FBS, Universitas Negeri Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas