Mengenal Alat Musik Lalove, Digunakan Sebagai Ritual Penyembuhan Suku Kaili

apa itu alat musik Lalove?

Hallo para pencinta budaya lokal, kembali lagi bersama mimin yang doyan rebahan ini. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas kembali mengenai kesenian budaya daerah yang terdapat pada alat musiknya.

Siapa sih yang tidak menyukai dengan alat musik, baik itu alat musik modern maupun alat musik tradisional. Hampir semua orang gemar mendengarkan musik sebagai sarana hiburan, melepas penat atau menaikan mood. Di zaman yang modern ini alat musik kian canggih, bahkan kita bisa memainkan alat musik modern hanya lewat smartphone.

perkembangan alat musik tradisional & modern

Meskipun begitu, kita tidak bisa menyangkal bahwasanya alat musik zaman sekarang merupakan hasil pengembangan dari alat musik tradisional. Seperti yang kita ketahui, alat musik tradisional menjadi bukti kekayaan budaya Nusantara yang masih cukup populer.

Di Indonesia sendiri, alat musik bukan hanya sekedar merubah mood atau sarana hiburan semata. Akan tetapi bisa bersifat sakral atau kudus. Biasanya, alat musik tradisional digunakan pada acara-acara tertentu, seperti upacara adat. Dimulai dari, pemujaan, persembahan, kematian hingga penyembuhan.

Termasuk alat musik tradisional yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini yaitu Lalove.

Apa Itu Alat Musik Lalove?

Lalove adalah alat musik tiup pentatonik yang mempunyai lima nada mayor. Alat musik ini begitu istimewa, terbuat dari rotan atau bilah bambu pilihan yang tumbuh di dataran tinggi atau lebih tepatnya didaerah puncak gunung. Sepintas lalove ini mirip seruling berukuran lebih panjang.

Cara memainkan alat musik Lalove

Sebelum ditebang atau mengambil bambu tersebut, para pengrajin akan terlebih dahulu membuat upacara adat yang bertujuan untuk minta izin atau permisi (tabe) kepada penghuni/ penguasa di bukit tersebut. Di dalam upacara ini menyuguhkan sesajen berupa makanan & darah ayam putih dengan jumlah yang sedikit.

Setelah selesai melakukan upacara, selanjutnya para pengrajin kayu diperbolehkan untuk menebang tiga batang buluh bambu dengan ukuran yang paling tinggi dan yang sudah berumur cukup tua. Lalu, para tukang pengrajin mengharuskan pergi ke aliran sungai untuk mengeluarkan ranting-ranting sekaligus menghanyutkan ketiga bilah bambu tersebut.

Baca juga : Mengenal Celempung, alat musik bagian dari Gamelan

beginilah cara membuat alat musik Lalove

Dari ketiga bambu yang dihanyutkan, bambu yang hanyut lebih dahulu akan terpilih menjadi bahan baku utama dalam pembuatan alat musik Lalove. Setelah itu, para pengrajin akan mengeringkan terlebih dahulu bambu tersebut. Lalu, memotong salah satu ujung ruas buku, menyayatnya sedikit, dan melilitnya dengan rautan rotan. Tak lupa juga, membuat lubang antara sayatan dan lilitan rotan tadi untuk masuknya udara dari tiupan.

Pengrajin akan melubangi bambu sebanyak enam lubang, yang terbagi menjadi dua kelompok dengan masing-masing tiga lubang. Antar kelompok harus berjarak sekitar 5 cm dan ketiga lubang berjarak sekitar 2 cm. Pengrajin juga akan menyatukan ujung terbuka buluh bambu dengan buluh yang lebih besar agar suara yang dikeluarkan terdengar lebih keras.

Dalam pembuatan Lalove sakral perlu adanya upacara adat, sehingga proses pengerjaannya akan memakan waktu yang cukup lama. Berbanding terbalik dengan zaman sekarang yang menggunakan alat atau mesin sehingga tidak akan memakan waktu hingga berhari-hari, kalo tidak salah sekitar 3-4 jam saja.

Baca juga : Karinding, alat musik khas Jawa Barat

Sejarah Lalove di suku Kaili

Dikutip dari berbagai sumber, Memang tak ada catatan yang pasti mengenai awal mula kehadiran alat musik Lalove ini. Tetapi menurut para sejarawan, Lalove ini diperkirakan sudah ada sejak peradaban pra-sejarah Suku Kaili. Konon, Lalove erat kaitannya dengan legenda Sawerigading yang mengembara ke tanah Kaili dan ingin mempersunting Ngilinayo, raja wanita dari Kerajaan Sigi. Ngilinayo ini pun mengajukan syarat, yaitu mengadakan acara sabung ayam milik mereka.

Sejarah Loleve di suku Kaili

Pada saat acara Sawerigading, untuk memeriahkan suasana dan acara tersebut diiringi dengan lantunan alat musik bawaan termasuk Lalove. Hebatnya, suara merdu yang dihasilkan dari alat musik yang satu ini mampu membuat seluruh penduduk pada saat itu berkumpul dari kalangan muda hingga yang tua. Bahkan sebagian kecil diantara mereka sedang menderita sakit.

Lambat laun, kedudukan alat musik Lalove ini menjadi suatu hal yang wajib ada dalam mengiringi semua ritual penyembuhan bagi suku Kaili yang bernama Tari Balia. Hampir setiap ritual, alunan khas Lalove mampu memanggil roh halus.

Baca juga : Talindo, alat musik khas Sulawesi Selatan

Perkembangan alat musik Lalove

Pada zaman dahulu, saking sakralnya, alat musik Lalove yang hanya dimainkan oleh orang khusus. Jadi, tidak sembarang orang dapat memainkan lantunan Lalove karena dapat menyebabkan orang kerasukan. Selain alasan tersebut, Lalove ini membutuhkan teknik untuk meniupnya agar nada yang dikeluarkan cukup tinggi dan sempurna.

Melestarikan alat musik Lalove dari suku Kaili

Hampir sebagian besar orang-orang yang sudah beranjak usia tua/senja atau kepala 4 hingga 5 yang mampu meniup alat musik Lalove. Namun, seiring berjalannya waktu, kini tidak hanya kalangan usia tua saja tetapi kalangan anak muda kini mulai memainkannya.

Bahkan, terdapat seorang seniman yang berasal dari Sulawesi Tenggara bernama Amin Abdullah yang menjadikan Lalove ini bagian dari instrumen dalam acara The Hawai’i Kakula Ensemble.

Beliau memadukan antara lantunan Lalove dengan musik Kakula dalam berbagai acara internasional. Tahukah kalian, pada saat tahun 2005, alat musik Lalove ini tampil dalam acara di University of Hawai’i Gamelan Ensemble Concert, Honolulu Zoo Society, dan sebagai musik pemutaran film ” The Last Bissu” Karya Rhoda Grauer di Honolulu.

Semenjak itu, alat musik Lalove telah mengharumkan nama Indonesia terutama Sulawesi Tengah. Pemerintah Indonesia pun menetapkan alat musik jenis ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Sulawesi Tengah di tahun 2009. Dan kini, nama Lalove sendiri diabadikan menjadi nama salah satu jembatan di Sulawesi Tengah.

Baca juga : Sejarah Tanjidor Betawi & alat musiknya

Sebagian besar masyarakat, terutama penduduk Sulawesi Tengah masih menganggap alat musik Lalove ini cukup sakral. Namun, terdapat pula beberapa kalangan yang menjadikannya sarana hiburan untuk mengiringi Tarian Tradisional dalam cara kesenian.

Segitu saja untuk pembahasan kita kali ini mengenai alat musik Lalove khas suku Kaili, Sulawesi Tengah. Semoga ulasan diatas dapat bermanfaat bagi kita untuk menambah wawasan tentang Budaya Nusantara. Cukup sekian & Terimakasih.

3 tanggapan pada “Mengenal Alat Musik Lalove, Digunakan Sebagai Ritual Penyembuhan Suku Kaili

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas